Terungkap bicara Muhammad Haji Salleh

Oleh Zikri Rahman Malam Jumaatnya dingin, dewan baharu Gerak Budaya bertempat di Petaling Jaya, berpusu-pusu warga berkerumun berniat dengar kata-kata dari Sasterawan Negara kita; Profesor Emeritus. Muhammad Haji Salleh. Didendang oleh moderator, Saudara Aziz Suriani dari kelompok budaya Serumpun Senadi; Muhammad Haji Salleh, dirinya seorang aktivis dan intelektual Melayu yang sebenar-benar Melayu menggarap cita anak bangsa Malaysia. Seputar bicara malam ini berlegar tentang nilai budaya yang terhambat dek arus “konsumerisme-materialisme-kosmopolitanisme”, dengan kata lainnya – kapitalisme – yang dipermudah jelas oleh Muhammad Haji Salleh sendiri. Tiga arus ini, terang Muhammad Haji Salleh adalah satu genggaman keras yang begitu dominan dan hegemonik dalam pembentukan nilai budaya warga Malaysia yang masih tidak siap ini dalam mengharung persoalan pasca-kolonialisme. Justeru persoalan ini terus berdegar-degar dalam lingkar budaya kita, soal bahasa, sastera dan falsafah yang tak terbina dalam acuan kita sendiri. Majlis sembang santai ini sendiri dimulai dengan lontar sajak Muhammad Haji Salleh sendiri dari kompilasi sajak yang tertulis sedari tahun 1965 lagi dalam “Jatuh Ke Laut Menjadi Pulau” berjudul “Ada Apa Pada Nama?”. Tema sajak ini, ditelusuri ertinya adalah persoalan – oleh siapa nama kita diberi maknanya? Muhammad Haji Salleh yang sejak mudanya hingga mengilau emas umurnya sekarang berkelana menimba dan mencurah ilmu sesungguhnya punya satu masalah; namanya sendiri. Berceloteh dirinya tentang bagaimana awal-awal lahir, pegawai polis telah salah mencatat namanya yang lekat hingga sekarang, Mat Salleh yang memanggilnya “Mat” yang bunyi dan maknanya “Tikar” dalam bahasa Melayu dan lain-lain lagi! Difikir pada soal ini, benar nama itu sendiri punya bebannya yang tersendiri samada mahu kita lepas atau pikul sahaja pembentukan identitinya itu. Muhammad Haji Salleh dalam soal ini membawa persoalan tentang manusia “satu dimensi” dan apakah kita di Malaysia terperosok akhirnya menjadi manusia yang mekanistik tanpa ada daya pembentukan identiti yang rencam terangkum soal budaya kita sendiri? Kita bermula dari hati Yang fasih pada lidah Muhammad Haji Salleh malam itu adalah tentang Melayu, tentang bagaimana Melayu itu pusat pemikirannya pada hati walau ketimbang warasnya berpusat pada tiga unsur iaitu akal fikiran, perasaan dan pertimbangan sosial yang terdasar dalam ruang dan masa “Melayu” itu sendiri. Melayu dengan ungkap “patah hati”, “geli hati”, “guris hati”,”busuk hati” dan “padat hati” antara lainnya memberi satu perspektif pertimbangan rasional yang baru;naluri itu terkait soal hati – soal hatilah yang kan memandu arah pembentukan bangsa Malaysia adanya. Yang terngiang-ngiang saat Muhammad Haji Salleh mengungkap soal hati ini, tertambat ingatan pada cerpen seorang lagi maha tokoh sastera negara kita ini, Shahnon Ahmad dalam Tonil Purbawa yang berbunyi begini; “Perjuangan kita cukup mudah, kita bertolak dari hati. Bukan perut yang ingin makan banyak-banyak. Bukan dari mulut yang ingin bercakap banyak-banyak. Bukan dari nafsu yang ingin berkuasa banyak-banyak. Kita selesaikan urusan hati. Dan yang lain akan selesai sendiri…” Apa semudah itu persoalan-persoalan dapat diungkap melalui pertimbangan hati? Nah, di sini Muhammad Haji Salleh segera melihat bagaimana sastera dapat menjawab persoalan pembentukan identiti bangsa Malaysia yang punyai kesedaran. Benar, korpus sastera kita melebar menjangkaui utara ke selatan kepulauan Nusantara, tetapi soal terbesar adalah bagaimana sastera itu berfungsi dalam warga masyarakat khususnya dalam struktur pendidikan yang dihambat tiga arus “konsumerisme-materialisme-kosmopolitanisme” ini. Yang mengongkong adalah sikap pemikiran satu dimensi warga Malaysia sendiri, dengan hegemoni politik yang rakus yang mengempang adanya satu kesedaran hati budi yang total bertitik tolak dari bagaimana pandangan alam kita sendiri terbina. Kita perlu sedari satu hal ini, Malaysia dalam usianya bertatih padat 57 tahun merdeka mempunyai satu gerak tektonik yang merubah struktur masyarakatnya dengan ganas sekali – dalam 57 tahun – dari masyarakat kelas petani dihambat proses moderniti, urbanisasi dan industrialisasi yang pantas lantas terjebak langsung dengan angkasa raya. Dalam pada itu ada semacam satu lohong yang tak terisi, tentang soal hati dan budaya kita sendiri dan ubatnya yang mujarab adalah sastera. Tanpa sastera,sekurang-kurangnya bagi Muhammad Haji Salleh adalah satu kebinasaan masyarakat satu-satu bangsa. Kesopanan dan kesusilaan itu sendi yang menggerakkan tamadun kian luntur dimamah arus “the late capitalism” ini. Terzahir dalam soal ini, penulis merasakan ide Herbert Marcuse dalam bukunya “One Dimensional Man”, tentang bagaimana keperluan-keperluan palsu (the false needs) beriringan memenuhi nafsu konsumeris dipacu material tanpa menjawab sudut pandang kosmopolitan yang kian rencam. Lantas,persoalan-persoalan itu terus digaul dalam membina manusia dan budaya lambak yang segera memeras ruang fikir kritis dan kritikal melanjut sehingga bibit kepembangkangan tidak lagi berbekas dalam norma masyarakat. Ini bagi Muhammad Haji Salleh sesuatu yang menggusarkan, nilai-nilai yang membentuk ketamadunan dari seremeh-temeh sifat malu dan sopan dalam mencapai kesedaran sudah melarut hilang dalam pembentukan ketamadunan bersendi kebudayaan itu sendiri. Malu Menjadi Kurang Ajar. Sistem pembudayaan yang terangka feudal ini,bagi penulis benar-benar memberi kesan dan pada itu, penulis merasakan ada garisan halus yang membezakan antara “malu” dan “kurang ajar” yang perlu dilangkaui oleh semangat zaman generasi kita. Malu biarlah bertempat dalam hormat, kurang ajar biarlah tekad mengujar – persoalan hormat dan rasa harga diri itu sendiri diakui oleh Muhammad Haji Salleh akan membesar dalam diri bilamana kita berupaya melihat dan memahat identiti bangsa Malaysia itu sendiri. Soal mengujar itu sendiri mengajar kita untuk merai rencam budaya, ambil contoh bagi Muhammad Haji Salleh dalam soal pembentukan bahasa Melayu, asasnya adalah kebersamaan dan impiannya dalam hal bahasa ini adalah untuk bahasa Melayu diampuh dengan adunan perkataan pinjam lain-lain suku kaum menjadi bahasa kebersamaan (bukan nasionalisme sempit di mana bahasa jadi monopoli satu dua bangsa yang tidak besar jiwanya). Biarpun Muhammad Haji Salleh mengungkap bahawa Usman Awang, bukanlah seorang penulis yang marah-marah malahan dari dirinya jugalah terzahir di wajahnya ungkapan “menguntum senyuman” yang sebenar-benar tetapi pesannya amat besar untuk kita lewati dalam mengarus deras “konsumerisme-materialisme-kosmopolitanisme” dalam perahu budaya kita; “Sesuatu bangsa tidak menjadi besar, tanpa memiliki sifat kurang ajar…”

]]>